Sabtu, 13 Agustus 2011

TETAP IKHTIAR DAN TAWAKAL

Berikut sebuah kisah yang diambil dari buku Karena Allah Tidak Tidur karya Ahmad Rifa’i Rif’an sebagai pembuka tulisan kali ini. Pada suatu malam, seorang santri di sebuah pesantren secara sembunyi-sembunyi keluar dari majelis kajian. Dengan langkah kaki yang hati-hati ia segera menuju ke rumah ustadznya yang tidak jauh dari pesantren.  Tempat yang ia tuju adalah belakang rumah ustadz. Kebetulan di belakang rumah sang ustadz ada pohon mangga yang sedang berbuah lebat.

Ia memanjat pohon dengan lincah sambil membawa karung yang telah dipersiapkannya sejak sore hari. Ia memetik mangga satu per satu, hingga karung yang dibawanya terasa berat. Kemudian ia turun, dan bergegas menuju kamar pesantrennya.

Di pesantrennya, ia membagi-bagikan buah mangga itu ke teman-temannya. Ia makan beramai-ramai di dalam kamar.

Pagi harinya, tanpa melalui penyelidikan yang berbelit-belit, si pelaku pencurian mangga itu pun ketangkap. Ternyata beberapa teman yang tak kebagian mangga sengaja melaporkan siapa yang telah mencuri mangga tadi malam.

Si pelaku pun diintrogasi langsung oleh sang ustadz.
“Mengapa kamu mencuri?”
Dengan entengnya santri itu menjawab, “Sudah takdir, ustadz.”
“Takdir gundulmu.” Ustadz itu pun menjewer  telinga santrinya, memuntirnya, hingga kepala santri itu muter-muter mengikuti arah jeweran.
“Aduh, sakit, Ustadz. Kok saya dijewer sih, ustadz? Saya mencuri ini kan sudah takdir dari Allah!”
Sang ustadz degnan entengnya menjawab, “Lho, jeweran ini juga takdir!”

Begitulah gambaran seseorang yang mengalami kemandegan dalam menafsirkan arti takdir. Banyak di kalangan kita yang sering berbicara “ah apa boleh buat”, “ah saya pasrah saja.” Seolah pikiran kita telah terpola kalimat, “semua sudah diatur, mau ngapain kerja terlalu keras, toh kalau takdir saya jadi orang kaya pasti kaya dengan sendirinya.” Syukur kalau kaya, nah kalau yang takdirnya miskin ngomong kaya gitu mau jadi apa!

Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 53 “....sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Itu merupakan dasar yang jelas untuk kita agar terus berusaha dalam meraih apa yang kita cita-citakan.

Seorang muslim sejati adalah dia yang suka bekerja keras, bukan para pemalas yang lebih senang menggunakan kata-kata “pasrah saja”, “aku cape”, “tidak akan mungkin berhasil”. Kata-kata demikian lebih tepat digunakan oleh orang yang telah berputus asa dan tidak memiliki semangat lagi hingga ia siap untuk dimasukan ruangan gas. Tidak tepat bila dikatagorikan sebagai muslim sejati. Walalupun memang tidak dapat disangkal Allah memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan apa yang Dia kehendaki seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ar Ra’ad : 39). Tetapi ingatlah firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 53, dan janji Allah itu pasti akan dipenuhi.

“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali do’a.” (HR Sunan Ibnu Majah). Dalam surat Al-Baqarah ayat 186 disebutkan “... aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
                
Pembaca yang budiman, teruslah berusaha dan jangan pernah berputus asa atas rahmat Allah SWT, bila mana takdir baik belum menghampiri kita, bersabarlah. Karena Allah lebih mengetahui apa yang tidak kita ketahui. KEEP SPIRIT!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar