Jumat, 13 Juli 2012

Manakala Hidupmu Tampak Susah untuk Dijalani


Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di depan mejanya.
Saat kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sebuah toples mayones
kosong yang besar dan mulai mengisi dengan bola-bola golf.

Kemudian dia berkata pada para muridnya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menyetujuinya.

Kemudian professor mengambil sekotak batu koral dan menuangkannya ke dalam toples. Dia mengguncang dengan ringan. Batu-batu koral masuk, mengisi tempat yang kosong di antara
bola-bola golf.

Kemudian dia bertanya pada para muridnya, Apakah toples itu sudah penuh? Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam toples. Tentu saja pasir itu menutup segala sesuatunya. Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh? Para murid dengan suara bulat berkata, "Yaa!"

Profesor kemudian menyeduh dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir. Para murid tertawa. "Sekarang," kata profesor ketika suara tawa mereda, " Saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu."

"Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting - Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman dan parasahabat. Jika segala sesuatu hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."
"Batu-batu koral adalah segala hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil."
"Pasir adalah hal-hal yang lainnya - hal-hal yg sepele."
"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples,"  lanjut profesor, "Maka tidak akan tersisa
ruangan untuk batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."
"Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian"
"Jadi...Berilah perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu. Luangkan waktu untuk check up kesehatan."
"Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah, dan memperbaiki mobil atau perabotan."

"Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf . Hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasir-nya."

Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "Kalau Kopi yg dituangkan tadi mewakili apa?"
Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat" :-)

---------------------
Tulisan di atas disari dari "google bottle".
/////////////////////////////////////////////// e-mail dari Ane Ahira - Asian Brain

The True Love

     Suatu ketika ada dua insan di pinggir danau. Seorang laki-laki paruh baya dengan badan tegap, dan satu lagi seorang wanita renta yang tak kuasa untuk berdiri, duduk di kursi roda.
Wanita renta itu memandang lepas, menyapu permukaan danau. Satu pertanyaan terlontar ketika dia melihat seekor burung putih yang sedang berdiri di atas permukaan air.
     "Nak, burung apakah itu yang ada di sana?"
     "Bangau ibu" jawab laki-laki itu dengan wajah yang berseri-seri.
     Setalah pertanyaan dilontarkan, kembali wanita renta tersebut menyapu pandangan ke permukaan danau. Sesaat kemudian satu pertanyaan kembali terlontar.
     "Nak, burung apa itu yang sedang mengepakan sayapnya?"
     "Bangau ibu" jawab sang anak dengan aga jengkel.
     Ibunya tak berekspresi melihat raut wajah sang anak. Lalu kemudian memandang permukaan danau kembali. Tidak lama setelah itu, kembali terdengar suara parau dari wanita renta itu.
     "Nak, burung apakah itu yang tadi terbang?"
     "Bangau ibu! tadi kan aku sudah bilang itu bangau! Burung yang berdiri di permukaan, yang mengepakan sayap dan yang terbang kan burung yang sama!" Jawab sang anak dengan muka yang muram dan nada membentak.
     "Dulu sewaktu kau masih kecil, kau menanyakan hal yang sama sampai puluhan kali dan aku selalu menajawabnya dengan sabar dan tersenyum kepadamu. Sekarang baru tiga kali saja aku bertanya kau sudah membentakku" wanita renta itu berujar tanpa memalingkan muka.
     Kemudian lelaki itu memeluk ibunya dengan erat seraya meminta maaf sambil meneteskan air mata.


*disadur dari buku satu jam bertafakur