Rabu, 15 April 2015

IMM DALAM GERAKAN DAKWAH MULTIMEDIA


Disclaimer 
Tulisan ini banyak mengutip lengkap dan langsung dari referensi-referensi yang tercantum di bawah. Yang oleh karena keterbatasan waktu tidak sempat dikomentari.

Pengertian Dakwah
Dalam Islam dikenal istilah dakwah dan tabligh. Secara kebahasaan kata dakwah berarti panggilan, seruan atau ajakan, sedangkan kata tabligh berarti penyampaian materi. Secara istilah, keduanya memiliki pengertian yang hampir sama. Dakwah berarti mengajak seseorang atau sekelompok orang untuk memeluk agama Islam. Tabligh berarti menyampaikan ajaran Islam kepada seseorang atau kelompok orang dengan tujuan agar orang atau kelompok itu bersedia memeluk agama Islam demi kebaikan mereka di dunia dan keselamatan di akhirat. Tabligh adalah bagian dari dakwah. Sedangkan dakwah tidak hanya dilakukan dengan tabligh.
Dalam pengertian yang luas, dakwah adalah upaya untuk mengajak seseorang atau sekelompok orang agar memeluk dan mengamalkan atau mewujudkan ajaran Islam ke dalam kehidupan sehari-hari. Dakwah dalam konteks ini dapat bermakna memerangi kebodohan dan keterbelakangan, pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas kesehatan serta pembebasan. Atas dasar ini, esensi dakwah dalam Islam adalah mengajak pada kebaikan (yad’uuna ila al-khair), memerintahkan kepada yang ma’ruf (ya’muruuna bi al-ma’ruf) dan melarang dari yang mungkar (yanhauna ani al-munkar).
Dakwah mencakup beberapa dimensi yaitu dimensi kerisalahan (Q.S. al-Maidah/5: 67 dan Q.S. Ali Imran/3: 104), kerahmatan (Q.S. al-Anbiya’/21: 107) dan dimensi kesejarahan (Q.S. al-Hasyr/ 59: 18). Dimensi kerisalahan difahami sebagai upaya meneruskan tugas Rasulullah untuk menyeru agar manusia lebih mengetahui, memahami, menghayati (mengimani) dan mengamalkan Islam sebagai pandangan hidup. Dimensi kerahmatan bermakna untuk mengaktualkan Islam sebagai rahmat (jalan hidup yang menggembirakan, memudahkan dan menyejahterakan) bagi umat manusia. Adapun dimensi kesejarahan mengandung upaya mengaktualkan peran kesejarahan manusia beriman dalam memahami dan mengambil pelajaran masa lalu untuk kepentingan mempersiapkan masa depan yang gemilang.
      Metode dakwah secara umum dan menjadi acuan merujuk pada firman Allah Swt, yaitu metode al-hikmah, al-maw’idhah al-hasanah, dan al-mujadalah bi al-lati hiya ahsan (Q.S. an-Nahl/16: 125) :
Dakwah bi al-hikmah berarti penyampaian dakwah dengan terlebih dahulu mengetahui tujuannya dan mengenal secara benar serta mendalam orang atau masyarakat yang menjadi sasarannya. Sasaran dakwah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu umat ijabah dan umat dakwah. Umat ijabah adalah individu dan masyarakat yang telah masuk Islam, sedangkan umat dakwah adalah individu dan masyarakat yang belum masuk Islam. Metode dakwah bi al-mau’idhah al-hasanah mengandung arti memberi kepuasan kepada jiwa orang atau masyarakat yang menjadi sasaran dakwah Islam itu dengan cara-cara yang baik, seperti dengan memberi nasihat, pengajaran, dan contoh teladan yang baik. Metode ini terkait dengan sifat dakwah yang memudahkan (taysir), menyenangkan dan menggembirakan (tabsyir). Metode dakwah al-mujadalah bi allati hiya ahsan diartikan bertukar pikiran dengan cara-cara terbaik yang dapat dilakukan, sesuai dengan kondisi orang-orang dan masyarakat sasaran.
Metode apapun dalam berdakwah, yang pasti dakwah harus dijadikan sebagai alat untuk melakukan perubahan individu atau masyarakat, dari kehidupan yang belum islami menjadi kehidupan yang islami. Dalam kaitan ini, dakwah yang dilakukan seorang dai atau mubaligh harus bersifat korektif, panduan, dan integratif. Dakwah bersifat korektif, karena dakwah selalu mengoreksi kecenderungan perkembangan masyarakat yang makin menjauh atau bahkan bertentangan dengan tatanan islami, baik yang menyangkut tata nilai maupun tata kehidupan. Dakwah bersifat panduan, karena dakwah itu berarti membimbing atau memandu gerak masyarakat ke arah tatanan masyarakat yang islami. Sementara dakwah bersifat integratif, karena dakwah berfungsi sebagai suatu pendorong perkembangan masyarakat.

IMM dan Gerakan Dakwah
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah salah satu organisasi otonom (ortom) Persyarikatan Muhammadiyah. IMM bertujuan mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Adapun tujuan Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga tercipta masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam tidak mungkin dilakukan tanpa dakwah. Berdasarkan penjelasan itu, dapat dengan mudah disimpulkan bahwa IMM berkewajiban untuk berdakwah. Maka tidak heran dalam identitas IMM, pada poin kedua, disebutkan secara eksplisit bahwa IMM memantapkan gerakan dakwah di tengah-tengah masyarakat khususnya di kalangan mahasiswa.
Dalam berdakwah, IMM menggunakan kepribadian Muhammadiyah sebagai landasannya. Hal itu sesuai dengan yang disebutkan pada poin kedua Enam Penegasan IMM yang berbunyi, “Menegaskan bahwa kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM”. Selain ber-amar ma’ruf dan nahyi munkar, Muhammadiyah melakukan gerakan tajdid atau pembaruan. Pembaruan dalam konteks dakwah dapat difahami sebagai pembuatan metode-metode dakwah yang kreatif sesuai dengan zaman dan sasarannya dengan bilisani qaumihi (Q.S. Ibrahim/14: 4). Makna bilisani qaumihi adalah suatu upaya untuk menyampaikan, menerjemahkan, dan menafsirkan ajaran Islam dengan memahami dan mengapresiasi konteks psikologis, sosial, ekonomi, demografis dan kondisi obyektif dari sasaran dakwah.
Kuntowijaya menafsirkan Q.S. Ali Imran ayat 110 ke dalam tiga pokok: (1) transendensi, (2) liberasi, dan (3) humanisasi. Ketiga pokok tersebut sebenarnya merupakan ranah pikir dan gerak IMM dalam kerangka intelektual profetik. Hal ini seiring dengan esensi dakwah dalam Islam, yang telah disinggung sebelumnya, yaitu mengajak pada kebaikan (yad’uuna ila al-khair), memerintahkan kepada yang ma’ruf (ya’muruuna bi al-ma’ruf) dan melarang dari yang mungkar (yanhauna ani al-munkar).

Globalisasi Era Teknologi Informasi: Keniscayaan Dakwah Multimedia
Proses globalisasi yang menyatu dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih telah menimbulkan berbagai bentuk perubahan peradaban manusia. Kemajuan teknologi informasi yang canggih ini, adalah gelombang ketiga dari perkembangan dan perubahan peradaban manusia, setelah peradaban pertanian dan industri. Pengaruhnya telah sampai pada segala lini kehidupan, termasuk agama.
Adanya kehidupan baru dalam bentuk cyberspace telah memperbesar pengaruh teknologi informasi terhadap globalisasi. Melalui teknologi informasi canggih seperti TV, media massa online, media sosial (medsos) dan perangkat multimedia lainnya yang terhubung ke cyberspace berbagai gagasan muncul dengan cepat. Hal ini dapat disaksikan dari semakin menguatnya budaya populer dan konsumen dalam kehidupan masyarakat, yang cenderung meniru budaya negara maju. Fenomena ini tidak hanya terjadi di daerah urban (perkotaan) tetapi juga di daerah rural (pedesaan).
Luasnya pengaruh fenomena multimedia harus dimanfaatkan sebagai sarana dakwah. Dewasa ini, TV, media massa online, medsos dan perangkat multimedia konsumsinya tidak lagi monopoli masyarakat urban. Selain karena telah tersedia perangkat pendukung seperti TV, komputer, modem, ponsel pintar dan jaringan, perangkat multimedia telah menjadi tren di hampir semua kalangan masyarakat.
Dakwah melalui multimedia menjadi keniscayaan, dengan alasan sebagai berikut. Pertama, subjek dakwah menjadi lebih banyak. Kedua, semakin banyak warga masyarakat baik umat ijabah maupun umat dakwah yang tidak dapat lagi terjangkau oleh dakwah dalam bentuk konvensional. Ketiga, dakwah menjadi lebih efektif karena proses komunikasi lebih intensif, lebih menarik, dan untuk kondisi tertentu lebih realistik.
Di samping ketiga keunggulan yang telah disebutkan tadi, juga ada keunggulan komparatif lain yang dimiliki multimedia, yaitu: Pertama, dapat diakses di mana saja, terutama media digital dan internet. Sebagai ilustrasi, pemanfaatan buku harian elektronik (digital diary, personal data assitence) yang dilengkapi dengan teks maupun audio al-Qur’an, al-Hadist, ataupun materi dakwah  lain yang dapat dibuka dan dipelajari. Kedua, dapat diakses setiap saat terutama media digital dan internet. Ketiga, bersifat interaktif. Keempat, dapat dilakukan pengulangan dan penyimpanan. Kelima, mampu menjangkau kalangan atas yang tidak sempat mengunjungi forum pengajian atau dakwah konvensional.
Keunggulan-keunggulan tersebut tidak serta merta dapat diwujudkan karena harus memenuhi prasyarat terlebih dahulu, diantaranya: (a) tersedia sumber daya manusia yang mampu menguasai perangkat multimedia untuk kepentingan dakwah; (b) tersedianya teknologi; (c) dikembangkannya wadah dan pengelolaan multimedia sebagai wahana dakwah.

Strategi Dakwah Multimedia
Perlu memperhatikan lima ciri dan esensi proses globalisasi:
1.      Terjadinya transfer nilai yang amat intensif dan ekstensif.
2.      Terjadinya transfer teknologi (terutama teknologi informasi dan komunikasi) yang massif dengan pelbagai akibatnya.
3.      Terjadinya mobilitas dan kegiatan umat manusia yang tinggi dan padat, yang salah satunya mengubah persepsi dan konsep manusia tentang waktu dan tempat.
4.      Terjadinya pergeseran kesadaran dan perilaku sosial manusia, yang berpengaruh pada kesadaran dan persepsi manusia akan lingkungan dari lingkungan geografis ke lingkungan fungsional dan kepentingan.
5.      Terjadinya kecenderungan budaya global kontemporer, yaitu kehidupan yang materialistis, hedonistis, sekularistis, konsumtif, permisif, pengingkaran terhadap nilai agama, dan sebagainya. Namun di sisi lain timbul juga kecenderungan spiritualisme, nativisme, dan reaksi lainnya yang sejenis.
Yang harus dilakukan saat merumuskan strategi dakwah yaitu sebagai berikut.
1.      Memperhatikan substansi atau pesan dakwah.
2.      Memperhatikan pendekatan dan strategi dakwah.
3.      Memperhatikan media atau wahana dakwah.
4.      Memperhatikan pelaku atau subjek dakwah.
Dalam kaitannya dengan empat poin di atas maupun dakwah secara keseluruhan, kita perlu memperhatikan alasan orang menolak kebenaran. Dalam falsafah ajaran KH. A. Dahlan tulisan K.R.H. Hadjid disiratkan beberapa sebab orang menolak kebenaran yaitu: (1) kebanyakan manusia angkuh sehingga tidak mau berdialog untuk menemukan kebenaran; (2) subjek yang membawa kebenaran; (3) takut berpisah dengan kerabat; (4) takut meninggalkan tradisi leluhur.
Terakhir, ketiga prasyarat keunggulan dakwah multimedia harus dipenuhi dengan menciptakan sumber daya manusia yang mampu menguasai perangkat multimedia untuk kepentingan dakwah. Hal itu dapat diwujudkan dengan mengadakan pelatihan dan melakukan aktifitas dakwah multimedia dengan kontinu, menyediakan teknologi penunjang, serta terus mengembangkan wadah yang telah dikelola.

Referensi
Al-Qur’an dan Al-Hadist
Dakwah Kultural Muhammadiyah terbitan PP Muhammadiyah
Sistem Perkaderan Ikatan Muhammadiyah
Falsafah Ajaran KH. Ahmad Dahlan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar