Rabu, 15 April 2015

Jangan Membuat Kotak Kemiskinan untuk Diri Sendiri



 Khalayak ramai menilai orang miskin berdasarkan keterbatasan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan materiil. Orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok seperti, pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan sering bergelar orang miskin. Penting bagi kita untuk memahami bahwa pandangan mainstream tersebut bukan satu-satunya perspektif yang dapat digunakan dalam memahami kemiskinan.
Dalam rangka memahami kemiskinan, tentu saja kita berupaya menjawab pertanyaan tentang apa itu kemiskinan, siapa orang miskin, di mana, kapan, dan mengapa terjadi kemiskinan, serta bagaimana kehidupan orang miskin. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu kiranya dapat bermanfaat dalam memformulasikan solusi pengentasan kemiskinan.
Penilaian khalayak ramai terhadap kategorisasi orang miskin seperti yang dijelaskan pada paragraf awal mungkin dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan paragraf kedua. Dengan menggunakan pandangan mainstream, kita bisa mendapatkan jawaban: kemiskinan adalah keadaan serba kekurangan secara ekonomi, kemiskinan diderita oleh orang yang berpenghasilan kurang dari US$1 perhari (Todaro dan Smith, 2006)1, kemiskinan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, penyebab kemiskinan boleh jadi karena keturunan dan atau kemalasan, dan orang miskin hidupnya sulit. Untuk mengatasinya, buka saja lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya dengan upah yang layak.
Namun perlu kita cermati, dengan pola pikir semacam itu akan menciptakan sistem persaingan kurang sehat yang cenderung mengabadikan kekayaan segelintir orang dan berimplikasi pada terhambatnya kemajuan di bidang ilmu dan teknologi serta bengkoknya keadilan dalam konteks pemanfaatan sumber daya alam suatu negara.

Perspektif Lain tentang Kemiskinan: Pendekatan “Kapabilitas” Sen
Amartya Sen, Pemenang Hadiah Nobel dalam bidang ekonomi tahun 1998, berpendapat bahwa “kapabilitas untuk berfungsi (capabilities to function)” adalah yang paling menentukan status miskin-tidaknya seseorang (Todaro & Smith, 2006: 23). Fungsi yang dimaksud Sen adalah apa yang dapat dilakukan dengan komoditas yang dikuasai. Sedangkan kapabilitas didefinisikan sebagai kebebasan yang dimiliki seseorang saat berfungsi (functioning). Kapabilitas untuk berfungsi berlaku dalam berbagai aspek. Sebagai ilustrasi, dua orang masing-masing memiliki notebook. Orang pertama menggunakannya untuk bermain games, menonton film, mengerjakan projek desain, membuat artikel kolom opini dan membuat cerpen. Sedangkan orang kedua menggunakannya hanya untuk bermain game dan menonton film, karena dia tidak memiliki kemampuan lain. Meskipun notebook-nya sama persis, tetapi orang kedua dikatakan lebih miskin dari orang pertama. Karena dia tidak bisa menggunakan fitur-fitur lain yang ada pada notebook-nya.
     Dengan teori ini, kemiskinan dapat difahami lebih luas. Karena mampu menjawab pertanyaan sampai pada penyebab kemiskinannya. Bukankah orang tidak punya cukup uang untuk membiayai hidupnya biasanya disebabkan oleh tidak memiliki kapabilitas untuk berfungsi?

Mahasiswa
Jenjang pendidikan formal paling tinggi adalah perguruan tinggi. Dan orang yang belajar di perguruan tinggi disebut mahasiswa. Mahasiswa mempelajari ilmu yang spesifik. Biasanya diklasifikasikan dalam program studi (prodi). Contohnya, mahasiswa pada prodi statistika hanya mempelajari tentang statistika di perguruan tinggi.
Mempelajari ilmu yang spesifik tidak lantas mempermudah mahasiswa dalam belajar. Karena walaupun ilmu yang spesifik saja yang ditekuni, tetapi dipelajari secara mendalam. Jadi, tetap saja membutuhkan upaya ekstra untuk menguasainya. Godaan pola hidup juga kerap menyulitkan mahasiswa dalam menguasai ilmu yang telah dipilihnya. Untuk itu, pola hidup yang tidak produktif seharusnya diminimalisir.
Dalam mengatur pola hidupnya, mahasiswa memerlukan upaya ekstra. Pasalnya, kebebasan yang luas diperoleh pada fase ini. Bebas memilih mata kuliah yang diambil, bebas berpakaian, bebas membaca buku referensi dan menentukan orientasi. Meskipun kebebasannya tetap terbatas, tetapi pasti jauh lebih bebas dari jenjang pendidikan di bawahnya.

Kotak Kemiskinan Mahasiswa
Di era teknologi informasi seperti sekarang ini mahasiswa menikmati kemudahan khususnya dalam komunikasi dan akses informasi. Mencari bahan kuliah bukan lagi menjadi persoalan berat. Mendiskusikan persolan dengan kawan pun dapat dilakukan dengan lebih cepat berkat fasilitas internet.
Ironisnya, berbagai kemudahan itu tidak mampu dimanfaatkan oleh semua mahasiswa dalam menunjang peningkatkan kapabilitasnya. Hanya beberapa (sebagian kecil) mahasiswa saja yang dapat memanfaatkannya. Sebagian besar lainnya hanya menggunakan internet untuk cit-cat, galau, narsis, download film dan lagu bajakan, nonton tv streaming, nonton video, bahkan ada yang menggunakannya untuk mengakses video porno.
Tujuan awal keberadaan internet untuk meningkatkan kualitas mahasiswa sehingga memiliki kapabilitas untuk berfungsi yang lebih tinggi, masih jauh panggang dari api. Bahkan kondisi kontradiktif lah yang ditemukan. Berkat fasilitas-fasilitas itu, mahasiswa semakin dimudahkan dalam membuat kotak kemiskinannya.
Kotak kemiskinan mahasiswa berati keterbatasan kapabilitas untuk berfungsi sebagai mahasiswa. Indikasinya adalah tidak mampu menguasai ilmu yang ditekuninya secara teori dan praksis, enggan mempelajari sesuatu yang lain (selain prodinya) dan enggan meningkatkan softskill. Hal tersebut bisa disebabkan atau menyebabkan orientasi menjadi sempit.
Orientasi atau cita-cita yang sempit menyebabkan malas untuk meningkatkan kapabilitas. Misalnya, saat seseorang berorientasi hanya ingin bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Badan Pusat Statistik (BPS) maka dia hanya akan mencukupkan diri dengan belajar sekedarnya. Yang terpenting baginya adalah dapat bersaing menjadi PNS BPS. Sehingga dia tidak akan mampu bersaing di luar itu.

Jangan Membuat Kotak Kemiskinan Sendiri
Pada hari pertama penulis mengikuti kegiatan orientasi di kampus, seorang dosen mengatakan, “Jangan membuat kotak kemiskinan sendiri”. Saat itu, penulis belum dapat menterjemahkannya. Setelah penulis mempelajari Pembangunan Ekonomi, pandangan penulis mulai terbuka dalam melihat kemiskinan.
Kemiskinan yang sesungguhnya adalah saat tidak memiliki kapabilitas untuk berfungsi. Saat mahasiswa membiarkan kapabilitas untuk berfungsinya tetap rendah, bahkan semakin merendahkannya, berarti dia sedang membuat kotak kemiskinannya sendiri. Suatu perbuatan yang konyol dan tidak rasional sama sekali.
Setiap manusia, apalagi dia mahasiswa, jangan membuat kotak kemiskinan sendiri. Pelajari dengan tekun ilmu di prodinya. Pelajari juga hal-hal lain seperti, bahasa inggris, teknologi informasi, kemampuan berkomunikasi, olah raga, seni, politik, dan lain sebagainya. Hal itu dapat dilakukan dengan mengikuti kursus, mengikuti seminar, mengikuti pelatihan, aktif dalam kelompok tertentu , belajar otodidak, ataupun dengan metode-metode lain.  
Akhirnya, memiliki cita-cita yang spesifik adalah hal yang wajar. Namun, sebagai mahasiswa kita harus senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang akan datang. Oleh karena itu, mari kita senantiasa meningkatkan kapabilitas untuk berfungsi‼!


1 Todaro, M. P., & Smith, S. C. (2006). Pembangunan Ekonomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar