Rabu, 11 Februari 2015

Bahaya Pesimis dan Malas

          Dalam melakukan usaha untuk mencapai tujuan kerap kali kita dihadang oleh berbagai macam rintangan. Baik itu faktor dari luar diri kita maupun faktor dari dalam diri kita atau bisa jadi rintangan datang dari kedua sisi tersebut.
          Rintangan dari luar diri kita seperti intervensi, hinaan, hujatan dan lain sebagainya lebih mudah ditangani daripada masalah yang datang dari dalam diri kita sendiri seperti pesimisme dan kemalasan. Saat akan menangani faktor yang berasal dari luar tidak sulit bagi kita untuk mengidentifikasi masalah yang ditengarai sebagai penyebabnya. Dan juga kita akan lebih terpacu untuk berbenah karena ada yang secara konkrit memperhatikan. Lain halnya jika faktor tersebut berasal dari dalam. Pikiran-pikiran pesimisme yang berkecamuk di dalam otak tidak mudah untuh dilenyapkan. Begitupun dengan kemalasan yang telah melekat pada keseharian. Butuh waktu lama dan usaha keras untuk memperbaikinya.
          Usaha yang keras janganlah diartikan secara harfiah. Usaha keras yang dimaksud disini bisa juga dikatakan usaha cerdas. Keras dalam term tersebut keras dalam banyak hal, baik tenaga maupun pikiran. Bukankah berpikir keras bermakna menggunakan kemampuan otak secara maksimal sehingga akan membuat otak berpikir cerdas? Namun perlu diingat, usaha keras harus dilakukan semaksimal mungkin. Karena jika tidak melakukannya sampai batas akhir (maksimal), maka kita tidak berhak menyatakan diri kita tidak mampu.
          Usaha maksimal berarti mengerahkan segenap kemampuan yang ada dalam diri dan mengabaikan sifat negatif seperti pesimis dan malas. Pesimis akan menyebabkan malas untuk berusaha sampai akhir. Meskipun belum ditahu akan jadi apa usaha kita pada akhirnya, kita telah memvonis bahwa kita akan gagal dan usaha kita sia-sia. Hal tersebut bukan disebabkan oleh penalaran yang rasional dan analisis yang tajam, melainkan karena pesimisme dan kemalasan yang telah mendarah daging. Jika usaha maksimal telah enggan dilakukan, maka mata kita akan terbiasa melihat dengan lensa putus asa. Padahal Islam mengatakan, tidak berputus asa (atas rahmat Allah) kecuali orang kafir.

RENUNGAN: Catatan Masa SMA

Dengan membaca tulisan seseorang kita dapat mengetahui apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, dan dirasakan oleh penulisnya pada saat tulisan itu dibuat. Saat saya membuka kembali arsip-arsip dahulu milik saya, tulisan ini ditemukan. Ini dibuat pada 5 April 2012. Sudah hampir tiga tahun, tapi harapan saya tetap sama. Di bawah ini adalah tulisan yang saya maksud (tanpa modifikasi).

AKU MAU KAMU TAU APA YANG AKU MAU

Aku adalah siswa yang masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah atas, dan masih menadahkan tangan pada kedua orang tuaku. Walaupun begitu, aku memiliki banyak sekali keinginan yang ingin aku dapat.

Aku mau integritas dalam pendidikan ditegakan.
Peraturan hanya akan menjadi pelengkap sebuah sistem atau administrasi bila tidak ditegakan. Hanya akan menjadi hiasan dinding semata. Tidak menjadi elemen penunjang tercapainya sebuah visi.
Alasan kemanusian hanya dapat diberikan pada sesuatu yang jelas terbukti atau orang-orang yang memiliki tingkat kejujuran yang tinggi. Alasan kemanusianpun harus dijauhkan dari orang-orang tamak, keuntungan saja yang mereka cari.
Kedok dan muslihat yang jelas tampak, harus dibabat. Kalau perlu dibakar sampai menjadi abu. Agar tidak menjadi tradisi. Semuanya akan menjadi semakin sulit bila telah menjadi tradisi. Dengan dalih adat, semua yang jelas-jelas salahpun dibenarkan. Dan untuk merubahnya sangatlah sulit.
Seleksi, dan ujian harus dilakukan dengan jujur. Kegiatan belajar tambahan memiliki tujuan untuk menambah ilmu, bukan nilai. Dan itu harus ditegaskan.

Aku mau dibina oleh orang yang bertanggung jawab.
Aku dan teman-temanku adalah orang-orang yang hebat. Sangat mungkin menjadi apapun di kemudian hari. Oleh karena itu aku membutuhkan orang-orang yang bertanggung jawab untuk