Rabu, 18 Maret 2015

Ilmu dalam Perspektif Al-Qur’an: Sebaiknya Menjadi Pandangan Mahasiswa Islam

Perbedaan pandangan terhadap “ilmu” merupakan suatu fakta yang tidak dapat disangkal. Mulai dari objek kajian (ontologis), cara mendapatkan (epistemologis), sampai kegunaan (aksiologis) ilmu, memiliki perbedaan antara satu pandangan dengan pandangan lainnya. Pada aspek ontologis, setidaknya ada dua pendapat yang telah diterima secara umum. Pendapat pertama mengatakan, objek kajian ilmu harus bersifat empiris. Artinya, hal-hal yang diluar pengalaman manusia tidak dapat dikategorikan sebagai ilmu. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa ilmu tidak hanya mengkaji hal empiris, tetapi juga hal-hal yang di luar pengalaman manusia, seperti kehidupan setelah kematian, makhluk gaib, dsb. Perbedaan pandangan terhadap ontologis ilmu sudah tentu akan mengakibatkan perbedaan pada cara mendapatkan ilmu dan kegunaan ilmu. Pendapat yang mengatakan objek kajian ilmu tidak terbatas pada hal empiris diutarakan oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an.
Quraish Shihab (2007) dalam Wawasan Alqur’an menerangkan, kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali di dalam Al-Qur’an. Itu merupakan jumlah yang banyak. Tidak kurang dari 20 kali lebih banyak dari kata “jihad” yang terulang sebanyak 41 kali dengan berbagai bentuknya. Kata “ilmu” digunakan dalam mengartikan dua hal. Pertama, proses pencapaian pengetahuan, dan kedua, objek pengetahuan. Secara etimologis, ‘ilm berarti kejelasan. Secara terminologis, ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu, baik itu yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Kejelasan didapatkan karena pengetahuan telah diuji dengan metode-metode yang sahih sehingga tidak samar-samar. Sebagai contoh, ilmu hadist  dalam menyatakan derajat suatu hadist menggunakan cara yang sangat hati-hati. Informasi yang dianggap sebagai hadist dinilai berdasarkan relevansinya dengan Al-Qur’an dan hadist lain serta dicermati pula orang-orang yang meriwayatkan-nya, apakah dapat dipercaya atau tidak.
Dalam perspektif Al-Qur’an, objek kajian ilmu tidak terbatas pada barang sesuatu yang kasat mata, tetapi juga meliputi yang tak kasat mata (gaib). Allah Swt dinamakan ‘âlim, yang berkata kerja ya’lam (Dia mengetahui), dan biasanya Al-Qur’an menggunakan kata itu, untuk Allah, dalam hal-hal yang diketahui-Nya, walaupun gaib, tersembunyi, atau dirahasiakan.

MEMBUAT DIRI SENDIRI BAHAGIA DAN ATAU MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN*

Kebahagian, adalah hal yang mutlak diperlukan oleh setiap manusia. Kebahagian akan membawa kita pada perasaan dan kehidupan yang lebih baik. Dimana akan selalu ada semangat dalam menjali kehidup sehari-hari.
Berbicara tentang kebahagian, adalah hal yang sudut pandang dan cara meraihnya sangat relatif. Kebahagian yaitu suatu kondisi dimana hati kita merasa senang setelah mendapatkan apa yang kita inginkan. Mengapa dikatakan relatif??? Jawabannya tentu karna setiap perasaan, cara pikir, sudut pandang, dan gaya hidup manusia berbeda-beda.
Membuat diri sendiri bahagia??? Ya, mutlak perlu dilakukan agar hidup kita berjalan lebih nyaman. Tapi apakah mesti dengan merusak kebahagian orang lain (saudara kita)??? Untuk orang yang berhati jawabannya tentu tidak. Kebahagian tersebut dapat diraih dengan lebih banyak cara. Daripada merenggut kebahagian orang lain... kenapa kita tidak mencara jalan lain??? Dengan melihat ke sekeliling kita, lihat keadaan mereka yang lebih terpuruk dari kita, lihat mereka yang tidak lebih beruntung dari kita, lihat mereka yang tidak dapat menikmati masa hidupnya dengan lebih baik dari kita. Selain itu, berfikirlah positif. Segala kejadian pasti memiliki hikmah dan merupakan bagian dari perjalanan yang sangaaaaaat panjangggg.... dan akan mengantarkan kita pada pemikiran yang lebih dewasa dan bijaksana. Orang yang mimiliki prasangka yang buruk masuk pada kelas 3 (direktur Kirin di film drama Dream High ^^). Itu masuk akal, karena bila pikiran kita disesaki dengan prasangka yang buruk tentu kita akan jauh dari kebahagian. Setiap langkah orang lain akan kita anggap sebagai ancaman, dan bayangan ketakutan akan senantiasa menghantui.