Senin, 06 Maret 2017

Sederhana dalam Pendapatku

Para penikmat dan pembuat karya sastra tentu sudah tidak asing dengan bait “aku ingin mencintaimu dengan sederhana”. Ya, puisi Sapardi Djoko Damono telah membuai banyak orang. Khususnya mereka yang sedang menyulam cinta. Kelanjutan dari bait itu adalah “dengan isyarat yang tak sempat disampikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”. Sederhana dalam sajak itu, sungguh luar biasa.
       Namun, bukan Prof. Sapardi saja yang berpendapat bahwa sederhana itu luar biasa. Einstein pernah menyatakan “segala sesuatu sebaiknya dibuat dengan sederhana…”. Steve Jobs juga mengatakan bahwa kesederhanaan adalah kerumitan yang sebenarnya. Pria penganut Budha Zen yang juga pendiri Apple ini, terobsesi dengan produk-produk yang di-set sederhana tapi canggih luar biasa. Lantas, apa hakekat ‘sederhana’ sebenarnya?
       Saya berpendapat serupa dengan ketiga tokoh di atas. Sederhana adalah sesuatu yang luar biasa. Kesederhanaan adalah muara dari pemikiran dan tindakan yang sebenarnya rumit. Sebagai ilustrasi, rumus-rumus matematika yang dapat menjawab persoalan dengan praktis, berawal dari kombinasi aksioma dan perkawinan dalil-dalil yang rumit. Ilustrasi lainnya saya berikan dalam bidang statistika. Untuk sekedar membuat model regresi liner sederhana yang terdiri dari dua variabel saja, diperlukan prosedur yang tidak sedikit. Kita tidak dapat mengatakan model ‘y=a+bx’ sudah sahih bila belum mengestimasi ‘a’ dan ‘b’ serta menguji signifikansinyamasing-masing. Tidak berhenti di situ. Kita harus menunjukkan bahwa variabel xsudah dapat menjelaskan variasi nilai variabel y dengan baik. Ada satu prinsip dalam pemodelan yaitu parsimony, yang berarti sederhana.
       Sederhana bukan cuma soal penampilan fisik. Sederhana dapat dicelupkan untuk mewarnai berbagai hal. Buah pikir dan perilaku juga dapat dibuat sederhana.
       Meskipun demikian, tidak tepat bila sederhana dijadikan dalil untuk bermalas-malasan. Karena seperti yang dijelaskan di awal. Makna sederhana adalah hasil dari kerumitan. Oleh karena itu, salah kaprah bila berpikir untuk menjadi sederhana adalah hal yang mudah. Yang mudah itu menjadi orang malas!
       Tulisan ini bukan tulisan yang sederhana. Melainkan untaian kata alakadarnya yang berharap dapat membuat pembaca memiliki perspektif lain tentang makna sederhana. Serta, memberikan penglihatan yang jernih, bagi pembaca dan penulis, dan menyingkap bias antara ‘sederhana’ dan ‘malas’. Sehingga dapat menjadi manusia-manusia sederhana. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar